PKS NEWS UPDATE:
« »

Selasa, 31 Januari 2012

KEWAJIBAN SEORANG MUSLIM


KEWAJIBAN SEORANG MUSLIM
“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan,mereka menerima dengan sepenuhnya” (QS. Annisaa : 65)

Kewajiban merupakan kebutuhan bagi orang yang telah mengetahui arti pentingnya, bagi orang yang telah merasakan kenikmatannya, dan bagi orang yang telah mendapatkan hikmah di baliknya, sebaliknya kewajiban menjadi beban bila tidak dibarengi dengan jiwa yang lapang, hati yang ikhlas, dan perasaan yang ridho, senang dan gembira menyambut seruan Allah SWT dan Rasulnya. Seperti halnya kewajiban hidup di bawah naungan Al-Qur’an dengan menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangannya, sesungguhnya merupakan kenikmatan dan rahmat dari Allah SWT, sebagaimana ungkapan As-Syahid Sayyid Qutub dalam muqaddimah tafsir Dzhilalnya :

“Al-Hayaatu fi dzhilali Qur’ani ni’matun, ni’matun laa ya’rifuhaa illaa man dzaaqahaa, tubaarikul  ‘umra wa tunmiihaa” ( Kehidupan di bawah naungan al-Qur’an adalah kenikmatan, kenikmatan yang hanya dapat diketahui oleh orang yang mereguk cita rasanya, kenikmatan yang memberkahi usia dan memproduktifkannya).

Imam as-Syahid Hasan Al-Banna merumuskan tujuh butir kewajiban asasi bagi seorang Al-Akh, di mana masing-masing butir terjabarkan sedemikian rupa dengan cukup rinci dan detail. Tentu saja kewajiban tersebut hanya ditekankan taklifnya kepada “Al-Akh” yang telah melampaui proses takwiniyah minimal sampai marhalah intisab, yang dianggap telah bermu’ayasyah dengan kewajiban Al-Akh pada marhalah sebelumnya hingga proses taqwim intisabnya . Sebagaimana ungkapan Imam as-syahid dalam  Muqaddimah “Risaalah at-ta’lim wal Usar” :

“Fahaadzihi risaalatii ilal ikhwaanil mujaahidiin, minal Ikhwaanil muslimiin, alladziina aamanuu bisumuwwi da’watihim wa qudsiyyati fikratihim, wa ‘azamuu shadiqiina ‘alaa an ya’iisyuu bihaa, au yamuutuu fii sabiilihaa, ilaa haaulaail ikhwaani faqoth uwajjihu haadzihil kalimaatil muujazah, wa hiya laisat durusan tuhfadzh walaakinnahaa kalimaatun tunfadz, fa ilal ‘amali ayyuhal ikhwatisshadiquun…”. (Inilah risalahku, kutujukan kepada anggota ikhwan yang bersungguh-sungguh, yang mengimani keluhuran da’wahnya, kesucian fikrahnya, keseriusan tekadnya untuk senantiasa hidup bersamanya atau mati di jalannya, hanya kepada seluruh ikhwan saja (A’dho) aku haturkan pesan ringkas ini (Risalah ta’lim wal usar), dan semua ini bukanlah pelajaran untuk dihafal, melainkan ta’limat yang harus dilaksanakan, oleh karena itu bersegeralah kepada ‘amal wahai ikhwah sejati….”)

Kata-kata “minal Ikhwan” dalam ungkapan di atas, ditekankan oleh Imam Hasan al-Banna dalam rangka tawaddhu dan menjauhi sikap ‘ujub dan takabbur, artinya Imam as-syahid tidak menutup kemungkinan bahwa “Al-Ikhwan al-Mujahidiin” juga muncul di luar IM, Oleh karenanya kita tidak boleh “ghurur” hanya dengan kebesaran nama IM, untuk ini kita sering diingatkan oleh taushiah para syuyukh : “Kam fiinaa laisa minnaa wa kam minnaa laisa fiinaa” (Berapa banya orang bersama kita (IM) tapi pada hakekatnya mereka “bukan dari kita” dan sebaliknya berapa banyak orang diluar kita (IM) tapi pada hakekatnya mereka bersama kita).

Kewajiban Al-Akh terhadap Rabb

Di antara kewajiban terhadap Rabb yang dapat mendorong terlaksananya kewajiban-kewajiban lainnya adalah senantiasa merasakan adanya muroqobatulloh, ( As-Syu’ara : 219 – 220, Al-Hadid : 4, Ali Imron : 6, Al-Fajr : 14, Ghafir ; 19 ).  Ketika seorang Al-Akh senantiasa merasakan muroqobatulloh maka keikhlasan niat akan mewarnai setiap amal perbuatannya ( Al-Bayyinah : 5, Al-Hajj : 37, Ali Imron : 29). Keikhlasan yang tulus akan menguatkan ingatan  tentang akherat dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk menghadapinya dengan taqarrub kepada Allah dan dengan memperbanyak amalan sunnah, memperbanyak dzikir dalam segala situasi dan kondisi serta melazimkan do’a matsur dari Rasululloh SAW. Ditambah dengan “Al-aurad Al-Ikhwaaniyah” yang senantiasa dibaca dan tidak meninggalkannya kecuali dalam keadaan yang sangat darurat atau terpaksa.

Hendaknya seorang Al-Akh dalam menyempurnakan kewajibannya kepada Allah SWT senantiasa menjaga dan memelihara “Thaharah hissiyyah dan ma’nawiyyah”, thaharah hissiyyah dengan berwudhu dan mendawamkannya ( Al-maidah : 6 ) sedangkan tharah ma’nawiyyah dengn menjaga hati dan lisan dari dzhon, tajassus dan ghibah ( Al-Hujurat : 12), juga dengan membuang sikap hasad, sebagaiman hadits nabi mengatakan : “Iyyaakum wal hasada fa innal hasada ya’kulul hasanaat kama ta;kulunnarrul khatoba’ ( jauhilah olehmu Hasad karena Hasad itu memakan kebaikan sebagaiman api memakan kayu bakar ).

Kewajiban lainnya adalah membaguskan shalat dengan menunaikannya pada waktunya dan bersungguh-sungguh ke masjid untuk menunaikannya secara berjamaah, Rasululloh SAW memotivasi ummatnya untuk shalat berjamaah dengan 27 derajat dibanding shalat sendirian, bahkan lebih afdhal lagi bila hal itu dilakukan di Masjid sebagaiman hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Al-Hakim : “Idzaa ra’aitumurrajula ya’taadul masjidafasyhaduu lahu bil iiman” (apabila engkau melihat seseorang membiasakan pergi ke Masjid maka saksikanlah oleh kalian keimanannya). Sedangkan shalat yang harus diperhatikan oleh seorang Al-Akh bukan hanya semata-mata dari aspek mengerjakannya, tetapi yang lebih penting dari itu adalah aspek menegakkannya dengan menjauhkan diri dari perbuatan keji dan munkar. As-Syekh Mutawaali Sya’rawi salah seorang ulama pakar tafsir tematik mengatakan bahwa firman Allah yang menyatakan “Innasshalaata tanha anil fakhsyaa’i wal munkar” itu bisa dibalik pengertiannya menjadi “Innal fakhsya’a wal munkar tanha ‘anisshalaati”, artinya shalat yang sungguh-sungguh dan disertai dengan merenungkan hakekatnya dapat mencegah perbuatan yang keji dan munkar, sebaliknya perbuatan yang  keji dan munkar dapat mencegah pelakunya dari kesungguhan dan hakekat shalat yang ditunaikannya.

Setiap bulan Ramadhan ada kewajiban bagi Al-Akh untuk menunaikan ibadah puasa seoptimal dan sebaik mungkin kemudian setiap bulan Dzul Qa’dah dan Dzulhijjah Al-Akh yang mampu dari segi materi berkewajiban menunaikan haji ke Baitulloh atau mempersiapkannya untuk dapat menunaikannya kelak di kemudian hari dengan bersungguh-sungguh bekerja dan mencari maisyah (Ali Imron : 97, Al-hajj : 27).

Hendaknya pula seorang Al-Akh  senantiasa memperbaharui taubat dan istighfar, menjauhkan diri dari dosa –dosa kecil apalagi dosa besar ( Annisaa : 17 – 18, Ali Imron : 135 ) Hendaknya pula seorang Al-Akh mengoptimalkan waktunya karena “Al-Waqtu hual hayah”, waktu adalah kehidupan itu sendiri, kemudian bersikap wara’ dari segala syubuhat sehingga tidak jatuh kepada yang haram.

Hendaknya seorang Al-Akh bermujahadah li nafsihi, mengarahkan kecenderungan nafsu senantiasa kepada yang halal dan baik, sehingga terhindar dari segala yang haram dimana saja kapan saja, lebih dari itu hendaknya seorang Al-Akh senantiasa berniat untuk jihad dan mempersiapkan diri semampunya untuk itu (Al-Anfal :60).


Kewajiban terhadap Badan

“Inna lijasadika ‘alaika Haq”, sesungguhnya bagi jasadmu ada hak, itulah nasehat Rosululloh SAW kepada seorang sahabat yang ingin berpuasa terus sepanjang hari. Di antara hak jasad yang menjadi kewajiban seorang Al-Akh adalah menjaga dan memeliharanya dari segala penyakit, “wa sihhataka qobla saqamika” dan sehatmu sebelum sakitmu demikan nasehat Rosululloh SAW untuk  senantiasa memelihara kesehatan badan

Untuk menjaga keseimbangan badan hendaknya seorang Al-Akh tidak berlebihan dalam mengkonsumsi kopi, teh dan sejenis minuman seperti itu lainnya (Soft drink), sedangkan rokok harus benar-benar dihindari samasekali, selain itu juga menjaga kebersihan badan, tempat, pakaian, makanan dan lain-lainnya, karena “Buniaddinu ‘alannadzhafah” (Dibangun Din itu di atas kebersihan).

Banyak berolah raga walaupun hanya sekedar berjalan kaki, mencegah dari mengkonsumsi khamr dan apa saja yang memabukkan. Semua kewajiban terhadap badan tidak lain dimaksudkan agar Al-Akh senatiasa fit dan prima dalam menjalankan ibadah dan tugas da’wah, karena sesungguhnya Ikhwah adalah SDM yang mahal, sekian lama terbina dan bila pada saat-saat tenaganya dan fikirannya sangat dibutuhkan dalam da’wah kemudian tiba-tiba tidak produktif dan optimal lantaran kesehatan sangatlah disayangkan. “Al-mu’minul Qowiyyu khoirun wa ahabbu ilallahi minal mu’minddhoifi” (Mu’min yang kuat lebih baik dan lebih disukai oleh Allah daripada Mu’min yang lemah) Hadits Nabi.   

Kewajiban Al-Akh dalam memelihara dan menjaga kondisi badannya pada prinsipnya adalah mengatur keseimbangan, agar suplai makanan yang masuk ke dalam tubuh tidak  berlebihan sehingga menimbulkan isyraf dan juga tidak kekurangan sehingga mendzhalimi diri sendiri, terlalu berlebihan dalam mengkonsumsi makanan, apalagi bukan kategori makanan yang menyehatkan. Melainkan yang hanya sekedar memenuhi standar halal tapi tak baik untuk dikonsumsi, seperti sejenis makanan fast food, mie Instan dll. Padahal kita diperintahkan oleh Allah SWT untuk mengkonsumsi makanan yang “Halalan Thayyiban”. Perintah Allah tersebut bukan hanya sekedar sebuah syariat, tetapi terbukti hikmahnya dapat menjamin kesehatan seseorang, karena kesehatan itu pangkalnya di perut yang menjadi tempat segala jenis makanan dan minuman, sebagaimana sabda Rosululloh SAW : “Maa ro’aitu wi-aa’a rajulin sarran min bathnihi” (Tidaklah aku melihat wadah seseorang yang lebih buruk dari perutnya). Oleh karena itu memilih jenis makanan yang sehat juga merupakan kewajiban seorang Al- Akh agar terpelihara badannya dari segala penyakit. Misalnya membatasi makanan yang mengandung lemak dan kadar kolesterol tinggi, karena hal itu lama kelamaan akan mengakibatkan penyempitan pembuluh darah dan memicu munculnya penyakit jantung koroner. Sebaliknya memperbanyak mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan sangat bagus untuk pencernaan.

Kesimpulannya adalah Al-Akh harus menjaga keseimbangan tubuh agar sesuai antara suplai dan energi yang dikeluarkan. Insya Allah seorang Al-Akh banyak mengeluarkan energinya untuk da’wah baik energi fisik maupun pikiran, bahkan energi pikiran termasuk hal yang dominan terkuras dari diri Al-Akh. Oleh karenanya menjaga keseimbangan dengan menunaikan kewajiban terhadap badan menjadi sebuah kewajiban yang terkait dengan pelaksanaan kewajiban yang lainnya seperti kewajiban beribadah dan da’wah , sebagaimana kaidah fiqih mengatakan ; “Maa laa yatimmul waajibu illaa bihi fahuwa waajibun”. Di sisi lain Aloh telah memberikan contoh keseimbangan pada struktur ciptaanNya, seperti langit yang ditegakkanNya dan dirancang dengan penuh keseimbangan. Jarak antara matahari dan bumi juga diatur seimbang, tidak terlalu dekat sehingga bumi terancam bahaya oleh radiasinya, juga tidak terlalu jauh sehingga suhu udara di  bumi tidak membeku. Demikianlah Allah SWT menggambarkan prinsip-prinsip keseimbangan, dan oleh karenanya kita dilarang untuk menyimpang dari timbangan dan takaran yang semestinya, wabilkhusus untuk badan kita. ( QS Ar-Rahman : 7-10 ).

Kewajiban terhadap akal

Akal merupakan karunia Allah SWTyang sangat berharga. Betapapun terbatasnya kemampuan akal, akan tetapi Allah telah mendisain akal seseorang agar memiliki kemampuan untuk merenungkan nilai-nilai kebenaran. Oleh karena itu seseorang dapat tergolong sebagai penghuni neraka sa’ir lantaran meninggalkan kewajibannya dalam hal menggunakan akalnya. ( QS. Al-Mulk : 10 )

Di antara kewajiban seorang Al-Akh terhadap akalnya adalah dengan banyak membaca dan produktif dalam membuat tulisan. Semangat membaca dan menulis merupakan stimulus dari wahyu pertama yang termaktub dalam rangkaian surat al-‘Alaq. Kemudian syogyanya seorang Al-Akh juga dianjurkan untuk banyak menelaah Risalah-risalah Ikhwan (Risalah Ta’lim, Risalah Jihad dll), surat kabar, tabloid, buletin dan majalah yang diterbitkannya, berusaha sebisa mungkin mengadakan perpustakaan betapapun kecil dan sederhana, sedangkan bagi seorang Al-Akh yang mempunyai peluang, kemampuan dan prospek akademis hendaknya jangan menyia-nyiakan hal itu untuk memperdalam kemampuan akademisnya dan keterampilan ilmiahnya, hal ini ditekankan oleh Allah SWT  dalam firmanNya surat at-Taubah : 122.

Dengan segala kemampuan akademis dan wawasan keilmuan yang dimiliki seorang Al-Akh, maka wajiblah baginya untuk memberikan perhatian kepada kegiatan keislaman secara umum. Sehingga dapat segera direspon dengan baik bila ada kegiatan da’wah.

Kewajiban pula bagi seorang Al-Akh untuk mengerahkan pikirannya bagaimana dapat membaguskan tilawah Al-Qur’annya, dan mentadabburkan kandungan ma’nanya ( 4 : 82, 47 : 24, 38 :29 ). Imam Ali Bin Abi Thalib berkata ; “Laa Khaira fii qira’atin laa tadabbura fiihaa” (Tidak ada kebaikan dalam membaca Al-Qur’an yang tidak dibarengi dengan mentadabburkannya). Di sisi lain seorang Al-Akh diharuskan banyak mempelajari Sirah Nabawiyah dan sejarah salafussalih, karena hal itu akan memantapkan hati (Tsabat), menjalin hubungan nostalgia dan mempertajam memori (Dzikra) dan nasehat penuntun di jalan da’wah (Mau’idzah). Sebagaiman firman Allah SWT dalam surat Hud : 120. Juga untuk menambah militansi dan semangat dalam berda’wah serta berjihad di jalan Allah, karena sebagaimana perkataan Ulama Salafussalih “Al-Hikayatu jundun min junudillah” (Kisah atau cerita laksana tentara-tentara Allah SWT).

Kewajiban intelektual seorang Al-Akh juga dianjurkan untuk berusaha mempelajari bahasa Arab dan gramatikanya serta disiplin ilmu syari’ah lainnya.


Kewajiban Al-Akh terhadap akhlaknya

Hendaknya seorang Al-Akh bersikap malu dan peka perasaannya. Malu yang dimaksud di sini adalah menjaga diri dari hal-hal yang dapat merusak keimanan dan kehormatan diri. “Al-Hayaa’u satrul Iman” (Malu itu sebagian dari Iman), demikian hadits Rosululloh SAW. Sedangkan yang dimaksud peka perasaannya adalah cepat tanggap terhadap kebaikan-kebaikan, baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan, misalnya bila seorang Al-Akh kedatangan tamu maka ia cepat-cepat menyambut tamunya dengan senyum dan wajah yang berseri seri, “Tabassumuka li akhika sadaqah” (Senyummu kepada saudaramu adalah sodaqoh), demikian nasehat Rasulullah SAW. Akhlak terpuji lainnya yang menjadi kewajiban seorang Al-Akh adalah sikap tawaddhu, tawaddhu yang dimaksud bukanlah rendah diri tapi rendah hati. Sebab kalau rendah diri pertanda tidak memliki izzah maka tawaddhu yang sebenarnya adalah tidak menyombongkan dan membesarkan diri dihadapan orang-orang beriman, tetapi sebaliknya merasa besar dan mulia di hadapan orang-orang kafir, “ ‘Aizzatin ‘alal kaafiriina, ‘Adzillatin ‘alal mu’minin” (5 : 54), tawaddhu yang dimaksud disini juga bukan “jurus tawaddhu” yang terkadang ditunjukkan oleh seorang Al-Akh untuk menolak satu permintaan kebaikan atau wadzhifah, baik tandzhimiyah maupun da’awiyah.

Seorang Al-Akh berkewajiban menjunjung tinggi kebenaran dan menjauhi sikap dusta, karena bersikap benar itu amanah dan dusta itu khianat. Orang yang konsisten dengan kebenaran biasanya memiliki keinginan yang kuat (quwwatul iradah), istiqomah, tidak plin-plan dan tidak gampang mengingkari janji, bersikap berani karena benar, mengakui kesalahan, menyadari keterbatasan diri sendiri dan mampu menguasai emosi.

Hendaknya pula seorang Al-Akh menjaga kehormatan dan wibawanya, meskipun demikian hal itu bukan berarti menghalanginya untuk sekali-kali bergurau dan melempar senyum, “Arihuu anfusakum fainnahaa lam tushna’ min hadiid” (Rehatkanlah diri kalian karena diri kalian bukan terbuat dari besi, demikian hadits Rasulullah SAW.

Hendaknya seorang Al-Akh menjauhi pergaulan yang jelek dan rusak serta menjauhi tempat maksiat, meskipun tidak melakukan maksiat di tempat tersebut. Namun hal itu akan menimbulkan fitnah dan kurang mendatangkan berkah, oleh karena itu di antara adab-adab rihlah adalah tidak mengunjungi tempat yang nyata-nyata banyak dan penuh dengan kemaksiatan.

Kewajiban Al-Akh terhadap kantongnya

Meskipun kaya seorang Al-Akh tetap berkewajiban untuk bekerja mencari maisyah. Sebab semakin kaya semakin banyak harta yang diinfakkan di jalan da’wah, terutama para suami yang harus bekerja menghidupi anak dan istrinya. Suami adalah qowwam, sehingga meskipun isterinya adalah orang kaya bukan berarti suami lepas dari tanggung jawab mencari maisyah, karena kekayaan isteri tidak menggugurkan kewajiban suami untuk mencari nafkah. (4 :34).

Hendaknya seorang Al-Akh jangan terlalu berambisi untuk duduk di birokrasi, tetapi jangan ditolak bila memang peluang itu ada. Seorang Al-Akh lebih disukai menjadi wiraniaga atau pengajar, karena waktunya lebih fleksibel dan tidak terlalu mengikat, sehingga bebas dan leluasa untuk melakukan manuver-manuver da’wah. Adapun seorang Al-Akh bila menjadi tenaga profesional hendaknya seoptimal mungkin menjaga kualitas, kredibilitas dan tepat janji sesuai kesepakatan, dengan kata lain ithqonul ‘amal. “Innallaha yuhibbu idzaa ‘amila ahadun an yuthqinahu” (Sesungguhnya Allah SWT menyukai bila seseorang bekerja ia melakukannya dengan ithqon).  Jangan menyalah artikan tsiqoh dengan ikhwah lalu bermuamalah seenaknya atau membiasakan manajemen “afwan” untuk menutupi kelalaiannya dan ketidak ithqonannya dalam bekerja.

Dalam mencari Ma’isyah seorang Al-Akh jangan coba-coba bermain riba, karena selain tidak berkah hal itu berarti melanggar sesuatu yang jelas-jelas diharamkan Allah SWT, juga menjauhi perjudian dengan segala unsurnya, sebaliknya seorang Al-Akh berkewajiban menghemat dengan menabung dan menyimpan uangnya agar sewaktu-waktu bila ada emergency bisa digunakannya tanpa harus meminta atau meminjam kepada yang lain. Bila dari hasil ma’isyah menghasilkan uang cukup banyak janganlah berlebihan dan berfoya-foya sehingga cenderung mengarah kepada perbuatan yang mubadzir, dan yang terakhir sedapat mungkin mencintai produk dalam negri wabil khusus produk sesama ikhwah untuk menggairahkan produktifitas ma’isyah di kalangan ikhwah.

Kewajiban Al-Akh terhadap da’wah

Kewajiban seorang Al-Akh terhadap da’wahnya adalah menjaga konsistensi dan soliditas hubungan terhadap jama’ah, kalaupun seorang Al-Akh menjalin hubungan dengan institusi dan organisasi lainnya, seperti perusahaan, ormas dll, maka hal itu dibenarkan sepanjang ada maslahat berkecimpung di dalamnya, terlebih lagi bila hal itu memang dilakukan atas perintah dan rekomendasi jama’ah sebagai on mission misalnya. Sebaliknya memutuskan hubungan sama sekali dengan lembaga atau institusi baik hukum, pemerintahan maupun pendidikan yang nyata-nyata berlawanan dengan fikrah Islam.

Juga menjadi kewajiban seorang Al-Akh untuk mengenali anggotanya satu persatu dengan baik, menunaikan hak-hak ukhuwwah mereka, mengutamakan dan membantu mereka serta menunjukkan rasa cinta dan empati kepada mereka karena Allah SWT.

Hendaknya seorang Al-Akh berpartisipasi aktif dalam da’wahnya dengan menyumbangkan sebagian hartanya, menyebarluaskan da’wah ke mana saja, mulai dari keluarga dan siapa saja yang berhubungan dengannya. Dan seorang Al-Akh senantiasa merasakan nuansa keqiadahan meliputi dirinya, sehingga terus menerus terasa berhubungan dengan qiadah baik secara ruh maupun amal, misalnya meminta idzin jika hendak melakukan kebijakan dan manuver da’wah yang dirasakan penting dan sensitif. Ala kulli hal hendaknya seorang Al-Akh laksana tentara yang bersiap siaga di pos dan baraknya untuk menunggu komando dan perintah.

Kewajiban Al -Akh kepada masyarakat umum.

Kepada orang lain meskipun dia bukan ikhwah hendaknya seorang Al-Akh bersikap adil, objektif dalam mengambil keputusan di setiap keadaan ( 5 : 8 ), jangan melupakan kebaikan orang lain hanya karena marah dan sebaliknya jangan menutup mata terhadap kejahatan dan keburukannya karena terlalu senang kepadanya.

Seorang Al-Akh hendaknya bersungguh-sungguh berkhidmat demi kepentingan orang lain, dan merasakan adanya kegembiraaan dan kepuasan batin bila dapat berbakti kepada orang lain, seperti menengok orang sakit atau menghibur seseorang dalam kesedihannya walaupun hanya dengan satu kalimat. “Khairunnaasi anfa’uhum linnaasi” (sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain), demikian hadits Rasulullah SAW.

Kepada orang lain Al-Akh hendaknya menebar kasih sayang, bersikap toleran, mudah mema’afkan dan lapang dada, bersikap lembut walaupun kepada binatang, bergaul dengan akhlak yang baik kepda semua orang dan menjaga adab dalam hidup bermasyarakat. Menyayangi yang kecil, menghormati yang besar, melapangkan majlis dan memberi tempat duduk kepada orang lain. Kemudian tidak melakukan tajasssus, ghibah, dan tidak lupa meminta idzin bila hendak masuk atau keluar dari ruangan ( 49 : 9 – 13 ).

Wallohua ‘lam bisshawab

Jumat, 27 Januari 2012


- PEMUDA PILIHAN -

Oleh: H. Badruzzaman Busyairi

Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk; (13) - dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata: "Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran". (14)(QS Al Kahfi 13-14)
Pemuda dan masa muda merupakan tahapan hidup dan kehidupan manusia yang penuh vitalitas. Aktif, reaktif, kreatif, sekaligus idealis. Ketika penindasan sedang terjadi dalam suatu masyarakat dan bangsa, para pemuda tampil melakukan perlawanan. Ketika kebekuan sedang melanda kehidupan masyarakat, para pemuda muncul melakukan pendobrakan. Ketika terjadi pengerusakan terhadap nilai-nilai kehidupan, para pemuda tampil memberantas nya. Dan ketika kebencian kepada para Nabi, Utusan Allah melanda suatu kaum, para pemuda tampil menjadi pembela yang gigih, sekaligus menjadi pengikut-pengikut setia para Nabi.
 Itulah beberapa karakter kehidupan pemuda yang terukir indah kalam khasanah sejarah umat manusia. Pemuda-pemuda pilihan yang namanya telah diabadikan alam pentas kehidupan manusia sejak dahulu kala

Pembela Kebenaran

Dalam catatan secara di dunia, terungkap dengan jelas tatkala Nabi Musa mengajak kaumnya untuk menyembah Allah swt, maka hanya para pemuda sajalah yang mau mengikutinya. Sedang lapisan masyarakat lainnya menolak tegas. Mereka takut pada ancaman dan siksaan penguasa. Allah swt, telah memberitahukan sikap positif para pemuda itu dalam Al-Quran surat Yunus 83, sbb:
Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa) dalam keadaan takut bahwa Fir`aun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka. Sesungguhnya Fir`aun itu berbuat sewenang-wenang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas. (QS. Yunus 83)
Hal serupa terjadi pada tahun-tahun permulaan Rasulullah menyampaikan Risalah Islamiyah kepada ummat manusia, para pemuda lah yang lebih dulu menyambutnya dengan sepenuh hati. Mereka adalah Umar bin Khattab, Sa’ad bin Abi Waqash, Mu’adz bin Jabal, Abdullah bin Mash’ud, Thalhah bin Ubaidillah, Zubail bin Awwam, Ali bin Abi Thalib, dan lain-lain yang umurnya kala itu rata-rata belum 20 tahun.
Sedangkan Abu Bakar Ash-Shiddiq yang namanya menjadi buah bibir orang di masa itu, dan yang telah mengantarkan para pemuda itu memeluk Islam, usianya belum sampai 40 tahun.

Penghancur Kebatilan

Sebaliknya, para pemuda juga menjadi orang-orang pertama penghancur kebatilan. Ketika Raja Namrud memerintah secara kejam dan masyarakat menyembah patung-patung, maka pemuda Ibrahim tampil secara heroik menentang kekuasaan raja dan menghancurkan patung-patung sesembahan  mereka.. Mereka berkata: Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala, namanya Ibrahim”.  (QS. Al-Anbiya 40)
Kemudian dalam kurun waktu yang berbeda, ketika kebatilan teramat kuat merasuki kehidupan masyarakat, suku dan bangsa lantaran dukungan penuh dari kalangan militer, birokrat, dan penguasa, para pemuda pilihan maju pantang mundur. Bahkan mereka menolak tawaran perdamaian dari para penguasa. Mereka menolak kompromi antara kebatilan dan kebenaran. Bagi mereka, antara keduanya tidak bisa disatukan. Bentuk dan sifat keduanya (kebatilan dan kebenaran) berbeda secara diametral. Jika tetap dipaksa mereka lebih suka memilih berlepas diri, dari pada hidup bersama kebatilan. Itulah sikap para pemuda Ashabul Kahfi, yang perjalanan hidupnya diabadikan secara indah dalam Al-Quran.
Mereka mengembara untuk menghindarkan diri dari kebatilan, sampai suatu gua mereka masuk dan beristirahat dengan tenang. Padahal di luar, penguasa terus memburuknya. Di dalam gua itu, mereka tidur pulas berhari-hari lamanya, bahkan bertahun-tahun dan berabad-abad, tanpa haus, lapar, maupun lelah. Mereka tidur panjang, melampaui zamannya, selama309 tahun (lihat QS Al-Kahfi 25). Sungguh ajaib!
Meski demikian, sewaktu Allah membangunkan mereka, mereka merasa seperti baru tidur sebentar saja, sebab semua yang ada di sekitarnya termasuk pakaian yang melekat di badannya masih utuh, tak kurang sedikit pun juga. Bahkan anjing yang setia menyertainya, tertidur juga. Dan ketika bangun anjing itu tetap menyalak, sehat tak kurang suatu apapun.
Itulah pertolongan Allah yang diberikan kepada para pemuda yang gigih melawan kebatilan. Mereka diberi petunjuk dan kekuatan oleh Allah sehingga memperoleh kejayaan (lihat QS Al-Kahfi 13-14)

Menjaga Kehormatan Dirinya

Pemuda yang namanya terukir indah, dan akan tetap dikenang sepanjang masa, adalah seorang pemuda yang berhasil memanfaatkan masa mudanya dengan sebaik-baiknya. Ia bukan hanya menjadi pembela bagi orang yang tertindas, dan tampil ke gelanggang menghancurkan segala bentuk kebatilan dan kemungkaran, namun juga memiliki kepribadian yang utuh dan kuat, tidak bersifat munafiq, dan tidak tergoda oleh segala bujuk rayu syaitan.
Itulah watak pemuda pilihan seperti Nabi Yusuf as, yang namanya menjadi perlambang ketampanan, kegagahan dan kebagusan di seantero jagad. Meskipun ia menjadi incaran bagi para gadis dan wanita cantik, dan berulang kali dibujuk dan dipaksa untuk berbuat maksiat serta memiliki banyak kesempatan, namun ia tetap menolak melakukan zina. Ia lebih rela dijebloskan ke penjara, karena tidak mau melayani nafsu seorang istri pejabat tinggi yang cantik, muda, kaya, dan terhormat, daripada harus melanggar aturan Allah. Dengan jujur Yusuf as berkata:
Yusuf berkata: "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh." (QS. Yusuf 33)

Berilmu dan Berwawasan Luas

Pemuda pilihan juga pemuda yang memiliki ilmu dan wawasan yang luas, seperti yang diperlihatkan oleh Ali bin Abi Thalib.
Sejak masih kanak-kanak ia memang tekun menuntut ilmu dan membaca berbagai fenomena masyarakat. Ketika tumbuh menjadi pemuda, ilmu dan wawasan nya bertambah banyak, melebihi orang-orang yang seusianya. Beberapa Sahabat Senior tidak jarang menanyakan sesuatu masalah kepadanya, dan dijawab dengan tuntas. Ia menjadi gudang ilmu, sepeninggal Rasulullah saw. Dan dengan bijaksana ia berkata, “Tiap wadah (tempat) menjadi sempit dengan barang yang dimasukkan ke dalamnya, kecuali tempat ilmu, maka ia akan bertambah luas.” (dikutip dalam kitab Abqariyyatul al Imam Ali yang ditulis oleh Abbas Mahmoud al Aqqad).
Pernyataan itu benar. Ketika berbagai persoalan yang juga mengantar terjadinya berbagai kemelut di masyarakat dan pemerintahan, ia mampu menghadapinya dengan memberikan berbagai pandangan yang luas.
Pemuda pilihan memang harus memiliki ilmu dan wawasan yang luas. Terlebih pada zaman sekarang ini dimana ilmu manusia sudah sangat maju.

Berakhlaq Mulia

Pemuda pilihan selain memiliki sikap-sikap positif di atas, juga harus berakhlaq mulia seperti yang terlihat pada diri Muhammad saw, jauh sebelum beliau diangkat menjadi Nabi Utusan Allah. Begitu rupa keindahan akhlaq nya, sampai orang-orang menyebutnya “Al-Amin”, artinya orang yang dapat dipercaya (jujur).
Syaih Shafiyyur Rahman Al Muarakfury, seorang penulis sejarah Nabi, dalam kitabnya yang berjudul “Ar-Rahiqul Makhtum, Bahtsun fis-Sirah an-Babawiyah ‘ala Shahibu Afdalish-Shalati Wassalam”, menulis sbb:
Nabi saw menonjol di tengah kaumnya karena perkataannya yang lemah lembut, akhlaqnya yang utama, sifat-sifatnya yang mulia. Beliau adalah orang yang paling utama kepribadiannya, paling bagus akhlaqnya, paling terhormat dalam pergaulannya dengan para tetangga, paling lemah lembut, paling jujur perkataannya, paling terjaga jiwanya, paling terpuji kebaikannya, paling baik amalnya, paling banyak memenuhi janji, paling bisa dipercaya sehingga orang-orang menjulukinya “Al-Amin”, karena beliau menghimpun semua keadaan yang baik dan sifat-sifat yang diridhai Allah dan manusia.
Wal hasil, beliau adalah ushwah hasanah, contoh teladan yang baik sejak dari kanak-kanak sampai akhir hayatnya.
Keluhuran akhlaq sangat diperlukan bagi pemuda, sebab mereka akan menjadi tumpuan hidup bagi keluarganya, masyarakatnya, bangsa, dan negaranya, serta umat manusia pada umumnya. Di bagian lain, keluhuran akhlaq diperlukan bagi pemuda lantaran jasad mereka sedang mengalami proses pertumbuhan . Jika dalam proses pertumbuhan itu mereka diisi dengan akhlaq yang baik, maka akan menghantarkan jiwa mereka menjadi baik. Hidupnya menjadi bermakna, hati, pikiran, dan perasaannya bersih, penuh kasih sayang, tidak sombong, selalu berbuat baik kepada orang tua, konsisten kepada kebenaran dan selalu bertaqwa kepada Allah.
Itulah pemuda yang diisyaratkan oleh Allah, dalam Kitab-Nya Al-Quranul Karim, akan mendapat kesejahteraan pada Hari Kebangkitan nanti.
Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan, dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali. (QS. Maryam 15)
Wallahu ‘alam.

Kamis, 26 Januari 2012

KEPADA IBU MUSLIMAH


KEPADA IBU MUSLIMAH

Segala puji bagi Allah. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Rasulullah, para keluarga dan para sahabat beliau, serta kepada orang-orang yang mengikuti jalan dan petunjuk beliau sampai hari pembalasan.
Selanjutnya, saya tulis beberapa baris berikut ini untuk setiap ibu yang telah rela menjadikan Allah sebagai Robbnya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad s.a.w. sebagai Nabinya, Saya menulisnya dari hati seorang anak yang saat-saat ini sedang merenungi firman Allah:
“Dan Robbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebik-baiknya, jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’, janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: “wahai Robbku, kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka mendidik aku waktu kecil.” (Al-Isra’: 23-24).
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kedua ibu bapakmu.” (Luqman:14).
Saya menulis baris-baris ini kepada orang yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku.
Dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu berkata: seseorang datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam. dan bertanya : “wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku? Beliau menjawab : Ibumu. “tanyanya lagi : “kemudian siapa? Beliau menjawab : ‘Ibumu. ‘tanyanya lagi : ‘kemudian siapa? “Beliau menjawab : ‘Ibumu” kemudian tanyanya lagi : “kemudian siapa? Beliau mejawab : Bapakmu.” (Muttafaq alaih).

Wahai ibuku, bagaimanakah saya harus mengungkapkan perasaan yang terpendam dalam hati ini? Tak ada ungkapan yang lebih benar, yang saya dapatkan, kecuali firman Allah Subhanahu wa ta’ala:
“Katakanlah: ‘wahai Robbku, kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (Al-Isra’:24).
“Wahai ibuku, jadilah – semoga Alah memberi petunjuk – seorang yang mu’minah, yang beriman kepada Allah dan para RasulNya. Jadilah seorang yang rela menjadikan Allah sebagai Robbya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam sebagai Nabi dan Rasulnya.
Dari Al-Abbas bin Abdul Muttalib Radiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam. pernah bersabda:
“Telah merasakan nikmatnya iman, orang yang rela menjadikan Allah sebagai Robbnya, Islam sebagi agamanya, dan Muhammad sebagai Rasulnya.” (riwayat Muslim).
Wahai ibuku, hendaklah ibu mempersiapkan diri dengan bekal taqwa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa.” (al-Baqarah:197).
Perhatikanlah Allah setiap saat, baik ibu dalam keadaan sembunyi maupun terang-terangan.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit.” (Ali Imran:5).
Wahai ibuku, sinarilah seluruh kehidupan ibu dengan sinar Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam karena di dalam keduanya terdapat kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dan hindarilah wahai ibuku, dari perbuatan yang mengikuti hawa nafsu, karena Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :
“Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Robbnya sama dengan orang yang (telah dijadikan oleh syetan) memandang perbuatannya yang buruk itu sebagai perbuatan baik dan mengikuti hawa nafsunya.” (Muhammad:14).
Hendaklah akhlak ibu adalah Alqur’an.
Dari Aisyah Radiyallahu ‘anha berkata:
“Akhlak Nabi adalah alqur’an”.
Wahai ibuku, jadilah suri tauladan yang baik untuk anak-anak ibu, dan berhati-hatilah jangan sampai mereka melihat ibu melakukan perbuatan yang menyimpang dari perintah Allah Subhanahu wa ta’ala . dan RasulNya Shalallahu ‘alaihi wassalam karena anak-anak biasanya banyak terpengaruh oleh ibunya.
Wahai ibuku, jadilah ibu sebagai isteri shalehah yang paling nikmat bagi sang suami, agar anak-anak ibu dapat terdidik dengan pertolongan Allah dalam suatu rumah yang penuh kebahagiaan suami isteri.
Wahai ibuku, saya wasiatkan – semoga Allah menjaga ibu dari segala kejahatan dan kejelekan- agar ibu memperhatikan kuncup-kuncup mekar dari anak-anak ibu dengan pendidikan Islam, karena mereka merupakan amanat dan tanggung jawab yang besar bagi ibu, maka peliharalah mereka dan berilah hak pembinaan mereka.
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan orang-orang yang memelihara amanah dan janjinya.” (Al-Mu’minun:8).
Rasulullah saw bersabda:
“Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu bertanggungjawab terhadap yang dipimpinnya.” (muttafaq alaih).
Wahai ibuku, hendaklah rumah ibu merupakan contoh yang ideal dan benar bagi rumah keluarga muslim, tidak terlihat di dalamya suatu yang diharamkan dan tidak pula terdengar suatu kemungkaran, sehingga anak-anak- dapat tumbuh dengan penuh keimanan, mempunyai akhlak yang baik, dan jauh dari setiap tingkah laku yang tidak baik.
Wahai ibuku, jadilah ibu –semoga Allah memberi taufiq kepada ibu untuk setiap kebaikan- sebagai isteri yang dapat bekerja sama dengan suami ibu dalam memahami problematika dan kesulitan yang dihadapi anak-anak, dan bersama-sama mencarikan upaya penyelesaiannya dengan cara yang benar. Hendaknya ibu bersama bapak mempunyai peranan yang besar dalam memilihkan teman-teman yang baik untuk mereka, dan menjauhkan mereka dari teman-teman yang tidak baik. Perhatikan penjagaan mereka, agar terjauhkan dari sarana yang merusak akhlak mereka, kerena kita sekarang berada pada zaman yang penuh dengan penganjur kerusakan, baik dari golongan manusia maupun dari golongan jin. Perhatikan sungguh-sungguh perkawinan putera-puteri ibu bapak pada masa lebih awal dan bantulah mereka, karena perkawinan itu akan lebih menjaga mata dan keselamatan seksual mereka, dimana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam telah menunjukkan hal ltu:
“Wahai seluruh kaum remaja, barangsiapa diantara kamu telah mempunyai kemampuan maka kawinlah, karena hal itu lebih membantu menahan pandangan mata dan menjaga kelamin. Dan barangsiapa belum mampu, hendaknya berpuasa, karena itu merupakan obat baginya.” (muttafaq alaih).
Wahai ibuku, peliharalah shalat lima waktu pada waktunya masing-masing terutama shalat fajar, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman: “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (An-Nisa’:103).
Usahakan untuk selalu khusyu’ dalam shalat. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Sesunguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.”
(Al-Mu’minun: 1-2).
Dan dengan itu, ibu menjadi suri tauladan yang baik bagi putera-puteri ibu.
Wahai ibuku, jadilah suri tauladan yang baik bagi putera-puteri ibu dalam keteguhan memakai pakaian hijab syar’i yang sempurna, terutama tutup wajah. Hal itu sebagai ketaatan kita pada perintah Sang Pencipta langit dan bumi dalam firmanNya:
“Hai Nabi, katakanlah kepada para isterimu, puteri-puterimu, para isteri orang-orang mu’min, agar mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak digangu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Ahzab:59).
Wahai ibuku, handaknya rasa malu merupakan akhlak yang ibu miliki, karena demi Allah malu itu termasuk bagian dari iman.
Dari Ibnu Umar Radiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam. pernah melewati seorang dari kaum Anshar yang sedang menasehati saudaranya tentang rasa malu, kemudian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Biarkan dia, karena sesungguhnya malu itu termsuk bagian dari iman.” (Muttafaq alaih).
Wahai ibuku, hendaknya do’a kepada Allah merupakan senjata bagi ibu dalam mengarungi kehidupan ini, dan bergembiralah dengan akan datangnya kebaikan, karena Robb telah menjanjikan kita dengan firmannya: “Dan tuhanmu berfirman: ‘berdo’alah kepadaKu, niscaya akan Ku perkenankan bagimu.” (Al-Mu’min: 60).
Dari An-Nu’man bin Basyir Radiyallahu ‘anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Do’a adalah ibadah.” (riwayat Abu Daud, dan Tirmizi, dan katanya: hadist hasan shahih).
Kepada Allah aku memohon agar menjaga ibu dengan penjagaanNya, memelihara ibu dengan pemeliharaanNya, membahagiakan ibu di dunia dan akhirat, dan mengumpulkan kita, ibu-ibu kita, bapak-bapak kita, dan seluruh kaum muslimin dan muslimat di dalam surgaNya yang ni’mat. Sesungguhnya Robbku Maha Dekat, Maha Mengabulkan dan Mendengarkan do’a.
(Dinukil dari : نصائح و توجيهات إلى الأسرة المسلمة
Edisi Indonesia "Beberapa Nasehat Untuk
Keluarga Muslim". Karya Yusuf Bin Abdullah At-Turki)

Rabu, 25 Januari 2012

Bersama ISLAM, optimis! Harapan itu masih ada


POTENSI ISLAM UNTUK MEMBERIKAN SOLUSI TERHADAP KRISIS MULTI DIMENSIONAL


Ketika krisis menimpa suatu negeri, bahkan menimpa umat manusia di dunia ini, umat Islam harus mengambil peran dan menawarkan konsep Islam untuk memberi solusi terhadap krisis, apalagi bila krisis itu disebut krisis multi dimensional. Dalam hal ini, Imam Syahid Hasan Al Banna menyatakan, “Al-Qur’an menawarkan penyelesaian terhadap berbagai persoalan dengan jelas dan rinci sehingga bangsa manapun yang mau mengambilnya sebagai landasan hidup, niscaya ia akan memperoleh apa yang diinginkannya”.
Sebagai agama yang syamil (menyeluruh) dan kamil (sempurna), Islam memberikan konsep-konsep dasar bagi penyelesaian krisis multi dimensional yang menimpa umat manusia di suatu negeri. Konsep-konsep dasar itu akan kita bahas dalam tulisan yang singkat ini dengan merujuk pada pendapat Imam Hasan Al Banna.
Islam dan Pembangunan Optimisme.
Salah satu persoalan yang amat mendasar bagi manusia untuk bisa keluar dari krisis adalah; apakah masyarakat itu masih memiliki rasa optimis atau tidak untuk bisa keluar dari krisis. Itu berarti, rasa optimis ini menjadi sesuatu yang amat penting dan Islam merupakan manhaj yang bisa menumbuhkan sikap optimisme untuk mengatasi berbagai persoalan hidup. Karena itu, Islam tidak membenarkan manusia berputus asa dari kemungkinan meraih kehidupan yang lebih baik, bahkan Al-Qur’an menyebutkan bahwa orang yang tertindas di muka bumi ini akan diangkat oleh Allah dari ketertindasan, Allah berfirman yang artinya: Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin serta menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (QS 28:5, lihat juga QS 3:139-140.59:2.2:214).65:2-5).
Islam dan Izzah Kebangsaan.
Dalam kondisi krisis, harus ditumbuhkan dalam diri ummat rasa bangga terhadap bangsanya yang mulia dengan segala keistimewaan dan sejarahnya yang indah. Kebanggaan (Izzah) ini akan tertanam pula pada jiwa generasi Islam hingga mereka siap mempertahankan kemuliaan bangsanya meskipun harus mengorbankan nyawa. Untuk itu, mereka siap berkarya bagi kebaikan dan kemajuan masyarakat bangsanya sebagai masyarakat dan bangsa muslim. Kebanggaan semacam ini hanya terdapat di dalam Islam, karena Allah Swt menggariskan dalam firman-Nya yang artinya: Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah (QS 3:102, lihat pula QS 2:143.63:8).
Izzah kebangsaan pada bangsa muslim dengan landasan ayat di atas menjadi jauh lebih dalam, lebih mulia bahkan lebih sakral dan bisa dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat ketimbang doktrin kebangsaan pada bangsa-bangsa sekuler lainnya. Dari sinilah, telah lahir kepemimpinan umat Islam atas masyarakat dunia yang adil, penuh kasih sayang secara sempurna yang belum pernah dilahirkan oleh bangsa lain. Sementara kebanggaan pada bangsa sekuler justru telah membangkitkan sikap permusuhan dari bangsa-bangsa yang lemah disebabkan tidak adanya keadilan dan kasih sayang.
Oleh karena itu, cinta tanah air menjadi sesuatu yang sangat penting dengan garis yang jelas sehingga harus dipertahankan kemuliaan dan kemerdekaannya. Pertama, wilayah geografis secara khusus. Kedua, berbagai negeri Islam, karena negeri-negeri itu pada hakikatnya adalah tanah airnya juga. Ketiga, berbagai wilayah bekas daulah Islamiyah yang telah diperjuangkan bagi tegaknya panji-panji Islam. Keempat, negeri-negeri muslim hingga mencakup seluruh dunia.
Islam dan Jundiyah.
Untuk mengatasi krisis, umat ini sangat dituntut untuk memiliki kekuatan yang besar, apalagi banyak persoalan termasuk di dalamnya perdamaian yang harus ditegakkan dengan kekuatan pasukan perang, Allah berfirman yang artinya: Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kamu. Boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagi kamu (QS 2:216), lihat juga QS 8:60.4:74-78).
Dengan doktrin kemiliteran yang begitu mulia di dalam Islam, maka tidak ada konsep lain yang dapat menandingi kekuatan dan kejelasannya, yang sesuai dengan impian setiap panglima di medan perang, baik menyangkut keyakinan, tekad maupun harga dirinya. Kemiliteran dalam Islam pada hakikatnya adalah mewujudkan perdamaian, keadilan, bahkan penegakan undang-undang dan hukum yang sangat diperlukan untuk mengatasi krisis, karenanya kemiliteran dalam tugasnya tidaklah dibenarkan bila menghalalkan segala cara sebagaimana yang dilakukan oleh militer pada negara-negara Barat yang kafir dan sekuler.
Jiwa keprajuritan yang merupakan jiwa perjuangan merupakan sesuatu yang harus ditumbuhkan pada masyarakat yang sedang mengalami krisis, sehingga semua pihak merasa bertanggung jawab untuk memperjuangkan kondisi kehidupan yang lebih baik.
Islam dan Kesehatan Umum.
Seiring dengan jiwa keprajuritan yang harus ditumbuhkan, amat diperlukan kesehatan dan kekuatan jasmani masyarakatnya dan ini lebih dituntut lagi bagi para pemimpinnya. Isyarat ini bisa kita kaji pada firman Allah yang terkait dengan Bani Israel dan pemimpinnya yang bernama Thalut, ayat tersebut artinya: Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa (QS 2:247).
Dengan demikian, kekuatan iman harus dibarengi dengan kekuatan fisik yang berarti kesehatan jasmani, inilah kondisi yang lebih baik dibanding dengan mu’min yang lemah, Rasulullah Saw bersabda:
اَلْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ.
Mu’min yang kuat lebih baik dari mu’min yang lemah.
Dalam kaitan kesehatan jasmani inilah, seorang muslim harus memperhatikan dan memenuhi apa yang menjadi hak bagi tubuhnya, baik dalam pemenuhan makan dan minum, pencegahan terhadap penyakit serta pemeriksaan dan pengobatan penyakit. Bahkan dalam banyak keterangan, Rasulullah Saw amat menganjurkan kepada umatnya untuk berolah raga guna menunjang kesehatan dan kekuatan jasmani.
Islam dan Ilmu Pengetahuan.
Untuk bisa mengatasi krisis, umat ini juga memerlukan ilmu yang banyak dan luas. Sehingga segala potensi yang sudah dimiliki seperti kesehatan, kekuatan militer dan kebanggaan terhadap bangsa dapat diarahkan pada tujuan yang benar. Karena itu, menuntut ilmu dan melakukan penelitian dalam kaitannya dengan pengembangan ilmu menjadi kewajiban yang sejajar dengan kewajiban-kewajiban lain di dalam Islam dengan keutamaan yang besar. Karena sedemikian penting kedudukan ilmu, maka meskipun ada panggilan jihad, tidak semua kaum muslimin diharuskan pergi ke medan perang, tapi harus ada yang menekuni ilmu, baik untuk kepentingan penelitian maupun pengajarannya, Allah berfirman yang artinya: Tidak sepatutnya orang-orang mu’min itu pergi semuanya (ke medan peperangan). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya (QS 9:122).
Manakala seseorang telah memiliki ilmu pengetahuan, maka itu menjadi modal yang sangat penting dalam mewujudkan rasa takutnya kepada Allah Swt, Allah berfirman yang artinya: Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara para hamba-Nya hanyalah ulama (QS 35:28).
Islam dan Moralitas.
Salah satu faktor yang membuat umat mengalami krisis yang besar adalah tidak dimilikinya akhlak yang mulia sehingga terjadi penyelewengan dan penyimpangan yang mengakibatkan timbulnya berbagai persoalan besar. Oleh karena itu, Islam bisa memberi kontribusi bagi upaya mengatasi krisis manusia karena Islam memiliki konsep akhlak yang sedemikian jelas yang didasari pada akidah yang kuat dan jiwa yang suci. Dari sinilah akan lahir perubahan-perubahan besar, Allah berfirman yang artinya: Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka sendiri yang mengubah keadaan yang ada pada mereka (QS 13:11).
Islam dan Ekonomi.
Salah satu krisis yang sangat terasa dan perlu segera mendapat perhatian untuk mengatasinya adalah krisis di bidang ekonomi. Islam tidak mengesampingkan masalah ini, bahkan telah memberi kontribusi  dengan meletakkan dasar-dasar dan konsep-konsepnya secara jelas dan tuntas. Islam menekankan kepada umatnya untuk mencari harta secara halal, menggunakannya secara baik dan tidak menyerahkan urusan harta kepada orang yang belum sempurna akalnya, sedangkan bila manusia sudah mendapatkan harta, maka dia tidak boleh terbelenggu dengan harta itu dengan tidak mau menginfakkannya di jalan yang baik dan benar, namun bila harta itu dikeluarkan untuk hal-hal yang tidak baik dan benar, maka itu berarti tindakan pemborosan (tabdzir) yang orangnya disebut dengan mubadzdzir. Di antara dalil yang bisa kita jadikan sebagai rujukan adalah:
Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta yang dijadikan Allah sebagai pokok  kehidupan (QS 4:5).
Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya yang karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal (QS 17:29).
Rasulullah Saw bersabda:
نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلرَّجُلِ الصَّالِحِ.
Sebaik-baik harta adalah harta yang ada pada orang yang shaleh
Islam dan Minoritas.
Secara konsepsional, keberadaan Islam adalah untuk membawa kemaslahatan bagi manusia secara umum baik yang berhubungan dengan pribadi, keluarga, masyarakat maupun bangsa. Hal ini bukan hanya dikenal oleh masyarakat dunia, tapi juga bisa dirasakan ketika nilai-nilai Islam diberlakukan dalam kehidupan umat manusia, bahkan hal ini diakui oleh para ilmuwan jika mereka memiliki kejujuran ilmiah dari penelitian yang mereka hasilkan.
Karena Islam adalah agama yang memberikan kemaslahatan bagi manusia, maka kalangan minoritas pada negeri-negeri muslim pun bisa merasakan itu dengan adanya jaminan hidup yang luas dan hak menjalankan keyakinan dan agama mereka. Adanya dugaan mayoritas menindas minoritas merupakan tuduhan yang tidak berdasar sama sekali bila hal itu ditujukan kepada Islam, karena Islam bisa menghormati kalangan minoritas selama mereka mau hidup secara damai. Dalil yang menyatakan hal ini bisa dipahami dari firman Allah yang artinya: Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangi kamu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan orang-orang yang memerangi kamu karena agama sebagai kawanmu, dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim (QS 60:8-9).
Islam dan Barat.
Ketika umat Islam ingin keluar dari krisis yang menghinggapinya, maka mau tidak mau, umat Islam harus kembali kepada Islam, karena krisis itu terjadi justru karena umat Islam meninggalkan nilai-nilai Islam, namun pihak Barat seringkali tidak suka dan akhirnya berburuk sangka terhadap umat Islam yang ingin menjadikan Islam sebagai solusi untuk mengatasi krisis. Sebenarnya Islam tidak pernah mempersoalkan hubungannya dengan Barat, bahkan bisa menjalin hubungan yang harmonis, namun Baratlah yang memperkeruh hubungan itu, padahal mereka sendiri yang menyatakan bahwa setiap negara bebas menentukan sistem ideologi yang akan dijadikan pijakannya sepanjang tidak merampas hak-hak asasi bangsa lain.
Barat semestinya menyadari bahkan bisa merasakan bahwa Islam sebagai sistem kenegaraan adalah sistem yang paling mulia dan sakral, apalagi ideologi Islam bertujuan untuk melindungi dan menjaga kemuliaannya. Islam memerintahkan pemenuhan atas janji, dengan siapa pun janji itu dibuat selama mereka konsekuen dengan janji-janji tsb. (QS 17:34. 9:4-7).
Setelah menyadari bahwa krisis umat terjadi karena umat meninggalkan Islam, maka menjadi kekeliruan yang besar bila kita ingin meniru Barat yang bangkit dan mencapai kemajuan dengan meninggalkan agama mereka. Hal ini karena Islam dengan agama mereka sangat jauh berbeda, mereka memang menjadi terbelakang karena terkungkung oleh agama mereka yang tidak bisa membawa kemajuan.
Di samping itu, tokoh agama Islam dengan tokoh agama mereka juga sangat berbeda posisinya. Tokoh-tokoh agama Islam tidak berhak sedikit pun merubah prinsip-prinsip hukum di dalam Islam, sedangkan tokoh agama mereka memiliki kewenangan yang sangat besar hingga berhasil mengungkung mereka di bawah kekuasaan hawa nafsu para tokoh agama itu. Di sinilah letak kesalahan yang mendasar dari kalangan Barat dalam memandang tokoh-tokoh agama Islam yang mereka samakan dengan tokoh agama mereka. Sementara tokoh mereka senantiasa menindas warganya, bekerja sama dengan para perampas hak rakyat, memberikan perlakuan yang istimewa kepada para perampas hak rakyat itu serta membagi kedudukan dan keuntungan materi dengan mengabaikan kemaslahatan negara dan masyarakat.
Seandainya pun ada tuduhan yang kuat dan memiliki data akurat pada tokoh-tokoh agama Islam, maka hal itu lebih kepada kebobrokan mentalitas sang tokoh, bukan karena konsep agama Islamnya. Karena Islam sama sekali tidak membenarkan tindakan mereka yang menggunakan agama untuk kepentingan mereka yang justru bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
Terlepas dari persoalan itu, masih sangat banyak tokoh-tokoh agama Islam yang betul-betul bersih dari misi kotor dan kepentingan sesaat. Kita dapati begitu banyak kisah ulama-ulama yang dengan tulus ikhlas dan resiko yang sangat besar menentang segala bentuk kezaliman yang dilakukan oleh para penguasa. Bahkan kalau perlu hingga memanggul senjata. Dengan demikian, kesalahan para tokoh agama di Barat sama sekali tidak bisa disamakan dengan tokoh-tokoh agama Islam.
Akhirnya, menjadi jelas bagi kita betapa Islam memiliki potensi yang begitu besar untuk membimbing manusia guna mencapai kehidupan yang sebaik mungkin, baik di dunia maupun di akhirat kelak, dan krisis yang melanda umat manusia di dunia sekarang ini hanya bisa diatasi secara komprehensif dengan ajaran Islam yang syamil dan kamil.
Wallahu a’lam

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons | Re-Design by PKS Piyungan